MAKASSAR, 25 Januari 2026 (Dotnews) – Upaya Pemerintah Kota Makassar dalam mendorong pembangunan berkelanjutan mulai mendapat pengakuan di tingkat global. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin, Makassar berhasil menembus seleksi internasional dan masuk dalam jajaran lima kota terbaik dunia untuk program kesehatan lingkungan.
Dari sekitar 300 kota yang mengajukan inovasi serupa, Makassar dinyatakan lolos ke tahap final dan kini bersaing memperebutkan penghargaan internasional yang akan diumumkan di New York City pada April 2026 mendatang.
Informasi tersebut disampaikan oleh pihak penyelenggara program RISE (Revitalizing Informal Settlements and Their Environments) kepada Wali Kota Makassar, Minggu (25/1/2026). Dalam pesan resminya, Makassar disebut sebagai salah satu kota dengan program kesehatan lingkungan yang dinilai berdampak signifikan secara global.
Program RISE sendiri merupakan inisiatif yang berfokus pada peningkatan kualitas permukiman, sanitasi, dan akses air bersih di kawasan padat dan rentan. Di Makassar, program ini dijalankan untuk menjawab persoalan lingkungan perkotaan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Keberhasilan menembus lima besar dunia ini menjadi catatan penting bagi Pemerintah Kota Makassar, terlebih capaian tersebut diraih ketika Munafri Arifuddin baru menjalani sekitar satu tahun masa kepemimpinannya sejak dilantik bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham pada Februari 2025 lalu.
Sejumlah terobosan di sektor lingkungan, sanitasi, dan pengelolaan kawasan permukiman dinilai selaras dengan agenda pembangunan global, khususnya dalam isu kesehatan lingkungan dan keberlanjutan kota.
Sebelumnya, pada Selasa (13/1/2026), Wali Kota Makassar memaparkan langsung berbagai program unggulan Pemkot Makassar kepada tim World Resources Institute (WRI) Ruan dan Program Penelitian RISE Indonesia dalam sesi wawancara di Balai Kota Makassar.
Dalam pemaparannya, Munafri Arifuddin menegaskan bahwa persoalan banjir, sanitasi, serta akses air bersih masih menjadi tantangan utama di kota besar seperti Makassar. Menurutnya, isu tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan warga.
Sementara itu, perwakilan WRI Ruan yang dipimpin Diego Rivera dari Monash University menyampaikan bahwa program RISE di Makassar masuk nominasi WRI Ross Center Prize for Cities, sebuah penghargaan bergengsi yang menilai inovasi kota dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan.
Diego menjelaskan, kunjungan tim WRI ke Makassar merupakan bagian dari proses penilaian akhir. Dari ratusan proyek global yang diseleksi, hanya lima yang lolos ke tahap final.
“Kami datang langsung untuk melihat dampak program RISE di lapangan. Tim kami juga melakukan dokumentasi dan wawancara yang akan diproduksi menjadi film pendek,” ujar Diego.
Film tersebut nantinya akan ditayangkan dalam agenda khusus di New York sebelum pengumuman pemenang penghargaan. Selama kunjungan, tim WRI juga menyambangi sejumlah lokasi penerima manfaat program RISE seperti kawasan Untia dan Bone Lengga, serta berdialog langsung dengan masyarakat.
Menanggapi pencapaian tersebut, Wali Kota Makassar menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan pengakuan internasional yang diberikan kepada Makassar. Ia menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat.
“Ini bukan hanya tentang penghargaan, tapi tentang bagaimana program ini memberi manfaat nyata bagi warga. Kami siap mendukung pengembangan RISE dan menjadikannya model bagi wilayah lain di Makassar,” kata Munafri.
Ia pun optimistis Makassar dapat menjadi rujukan bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengelola kawasan permukiman yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan.
“Makassar punya peluang besar untuk menunjukkan bahwa kota di Indonesia mampu bersaing dan tampil di panggung dunia,” pungkasnya.






