MAKASSAR, 05 Januari 2026 (Dotnews) — Hujan deras yang mengguyur kawasan hulu Sungai Jeneberang berubah menjadi ancaman serius dalam hitungan menit. Air bah yang datang secara tiba-tiba memutus jalur penyeberangan dan menjebak 13 warga Kota Makassar di kawasan wisata alam Air Terjun Barayya, Sungai Jeneberang, Kabupaten Gowa.
Menerima laporan kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar langsung bergerak cepat melakukan operasi penyelamatan terhadap seluruh korban yang terjebak.
“Mereka terjebak akibat banjir bandang di kawasan wisata alam Air Terjun Barayya, Sungai Jeneberang, Kabupaten Gowa,” ungkap Kepala BPBD Kota Makassar, Dr. Fadli Tahar, Minggu malam (4/1/2026).
Peristiwa ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda wilayah hulu sungai. Saat kejadian, rombongan warga Makassar tengah melakukan aktivitas wisata alam bersama komunitasnya dengan menjelajahi kawasan air terjun. Namun hujan deras yang turun di hulu menyebabkan debit Sungai Jeneberang meningkat drastis dalam waktu singkat.
Arus sungai yang tiba-tiba deras memutus jalur penyeberangan yang sebelumnya dilalui rombongan. Akibatnya, 13 orang terjebak dan tidak mampu melintas karena kondisi arus yang sangat berbahaya. Para korban terpaksa bertahan di dataran yang lebih tinggi sambil menunggu bantuan.
Meski lokasi kejadian berada di luar wilayah administratif Kota Makassar, BPBD Makassar tetap merespons cepat setelah menerima informasi bahwa para korban merupakan warga Kota Makassar. Tim evakuasi langsung diterjunkan ke lokasi dengan membawa ambulans serta perlengkapan penyelamatan lengkap.
Operasi evakuasi berlangsung dalam kondisi yang cukup menantang. Selain hujan yang masih turun, medan terjal, arus sungai yang kuat, serta keterbatasan pencahayaan karena hari mulai gelap menambah risiko bagi tim penyelamat.
Dalam proses evakuasi, BPBD Makassar mengerahkan berbagai peralatan pendukung, seperti perlengkapan mountaineering, life jacket, peralatan medis, perlengkapan rescue, serta logistik darurat berupa jaket penghangat dan makanan.
“Satu per satu korban kami jangkau menggunakan teknik evakuasi khusus, dengan tetap mengutamakan keselamatan semua pihak,” jelas Fadli.
Seluruh korban yang terdiri dari 5 perempuan dan 8 laki-laki berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Setelah berhasil keluar dari lokasi kejadian, para korban langsung dibawa menggunakan ambulans dan kendaraan operasional BPBD menuju Kota Makassar untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Fadli Tahar menegaskan bahwa keselamatan warga merupakan tanggung jawab moral dan kemanusiaan yang tidak dibatasi oleh wilayah administratif.
“Semua yang kami evakuasi adalah warga Kota Makassar. Di mana pun mereka berada, keselamatan mereka tetap menjadi tanggung jawab kami. Medan sangat berat dan berisiko, namun itu tidak boleh menghalangi tugas kemanusiaan,” tegasnya.
Selain proses evakuasi, BPBD Makassar juga memastikan kebutuhan dasar para korban terpenuhi, termasuk penanganan medis awal, jaket penghangat, serta makanan untuk menjaga kondisi fisik dan psikologis mereka.
Fadli turut mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat melakukan aktivitas wisata alam, khususnya di musim penghujan. Menurutnya, potensi banjir bandang di kawasan sungai dan air terjun dapat terjadi secara tiba-tiba dan sulit diprediksi.
Keberhasilan operasi ini kembali menegaskan peran BPBD Kota Makassar sebagai garda terdepan dalam penanggulangan bencana dan penyelamatan kemanusiaan. BPBD hadir bekerja dalam senyap, menembus batas wilayah administratif, dan mempertaruhkan keselamatan demi menyelamatkan nyawa.
“Keselamatan warga adalah amanah. BPBD Kota Makassar berkomitmen untuk selalu mendahulukan penyelamatan kemanusiaan,” pungkas Fadli.
Adapun 13 warga yang berhasil dievakuasi masing-masing bernama Faisal, Anis, Rini, Dini, Sety, Titi, Ahmad, Tini, Dayat, Ikram, Ikhsan, Edo, dan Ical.
Sebelumnya, respons cepat BPBD Kota Makassar juga berhasil mengevakuasi lima nelayan yang terombang-ambing di perairan Barrang Lompoa akibat kerusakan mesin kapal pada Kamis malam, 1 Januari 2026.






