Pemerintahan

Momentum HKSN ke-76, Wali Kota Makassar Dorong Penguatan Solidaritas dan Penanganan Masalah Sosial

×

Momentum HKSN ke-76, Wali Kota Makassar Dorong Penguatan Solidaritas dan Penanganan Masalah Sosial

Sebarkan artikel ini
Momentum HKSN ke-76, Wali Kota Makassar Dorong Penguatan Solidaritas dan Penanganan Masalah Sosial.

Pria yang akrab disapa Appi itu, juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Sosial Kota Makassar beserta seluruh jajarannya yang telah mempersiapkan rangkaian kegiatan HKSN secara maksimal, melibatkan pilar-pilar sosial dan berbagai elemen masyarakat.

Ia turut menyampaikan terima kasih kepada para pekerja sosial, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta para relawan yang selama ini bekerja tanpa pamrih dalam aksi-aksi kemanusiaan.

Munafri menegaskan bahwa Makassar sebagai kota besar memiliki dinamika sosial yang kompleks. Meski begitu, ia bersyukur karena masyarakat tetap memiliki rasa kepedulian yang kuat.

Pemerintah Kota Makassar, lanjutnya, berkomitmen untuk menghadirkan kebijakan dan program yang berpihak pada kelompok rentan, memperkuat layanan sosial, serta memperluas kolaborasi lintas sektor.

“Tetap semangat, tidak ada yang tertinggal adalah bagian penting dari upaya mewujudkan Makassar yang lebih inklusif, ramah, dan saling memberdayakan,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Munafri menyoroti pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menghadapi persoalan sosial di lapangan, termasuk penanganan anak jalanan, gelandangan, pengemis, dan berbagai modus sedekah jalanan.

Ia menegaskan bahwa membangun kota inklusif tidak cukup hanya melalui slogan atau tulisan di dokumen perencanaan, tetapi harus diwujudkan lewat aksi nyata yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

“Membangun kota inklusif tidak boleh hanya slogan. Itu harus diperlihatkan dengan aksi nyata. Dan ini tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Pemerintah Kota tanpa kolaborasi lintas sektoral,” ucapnya.

Politisi Golkar itu mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk merefleksikan peran masing-masing dalam menjaga semangat kesetiakawanan sosial, terutama di tengah perubahan perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi dan media sosial.

Dia menyebut bahwa interaksi sosial semakin berkurang karena banyak warga, termasuk generasi muda, lebih sibuk dengan gawai masing-masing.

“Kesetiakawanan sosial membutuhkan interaksi, empati, dan simpati. Kita harus kembali membangun ruang kebersamaan, saling berbagi, dan menghadirkan kepekaan sosial di kehidupan sehari-hari,” pesannya.