Pemerintahan

Munafri Ceritakan Dinamika Hidup: Dua Kali Kalah Pilkada hingga Akhirnya Jadi Wali Kota Makassar

×

Munafri Ceritakan Dinamika Hidup: Dua Kali Kalah Pilkada hingga Akhirnya Jadi Wali Kota Makassar

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, berbagi pengalaman perjalanan hidupnya, termasuk kisah sukses dan kegagalan, di hadapan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bosowa (Unibos) Makassar.

Di usia 22 tahun, ia telah memimpin sebuah stasiun radio anak muda dan berhasil menjadikannya radio dengan jumlah pendengar tertinggi di Makassar.

Dari pengalaman itu, ia menegaskan pentingnya membangun relationship. Menurutnya, kemampuan bergaul adalah hal krusial bagi mahasiswa hukum.

“Kita akan selalu dibutuhkan karena memahami dasar-dasar hukum dari berbagai kegiatan,” pesan Appi, sapaan akrabnya.

Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke dunia usaha. Berangkat dari ide dan pengetahuan yang ia dapat dari banyak membaca, karena pada masa itu internet belum semaju sekarang.

Munafri membangun sejumlah usaha hingga akhirnya masuk ke bisnis pertambangan. Tahun berjalan, ia menikah dan masuk ke lingkungan keluarga yang memiliki konglomerasi bisnis.

Dari situ ia kembali dipercaya memimpin perusahaan tanpa harus mengandalkan ijazah.

Lanjut dia, peluang besar datang ketika Rapat Umum Pemegang Saham perusahaan menunjuknya mengelola PSM Makassar.

Masuk ke dunia sepak bola yang benar-benar baru baginya, ia membangun sistem manajemen yang kuat dan menorehkan prestasi dengan membawa dua piala besar untuk Kota Makassar selama enam tahun masa kepemimpinannya sebagai CEO PSM.

Pada 2018, ia mencoba peruntungan di Pilkada Makassar. Setelah melalui proses head-to-head melawan petahana, hingga kemudian melawan “kotak kosong”, ia justru harus menerima hasil kekalahan yang menurutnya menyisakan persoalan hukum tentang logika kompetisi politik.

“Saya lari sendirian, tapi kalah dengan tidak tahu siapa pemenangnya,” katanya, menggambarkan situasi pilkada saat itu.

Ia kembali maju pada Pilkada Makassar 2020, namun kembali mengalami kekalahan. Meski begitu, ia tidak menyerah. Ia kembali fokus mengurus PSM sekaligus mengembangkan karier di dunia sepak bola nasional.

Perjalanannya berlanjut hingga tahun berikutnya, akhirnya ia didaulat menjadi salah satu Komisaris Liga Indonesia Baru (LIB), kemudian menjadi Direktur Keuangan PT Liga Indonesia Baru, dengan latar pendidikan S1 Fakultas Hukum.

Menurutnya, alasan ia bisa dipercaya menduduki posisi tersebut adalah karena ia membekali dirinya dengan ilmu tambahan, termasuk akuntansi.

“Seorang Direktur Keuangan tidak mungkin hanya membaca laporan rugi laba saja tidak bisa. Ini harus dipelajari. Mahasiswa hukum harus menambah ilmu di luar ilmu utama,” tegasnya.