MAKASSAR, 02 Maret 2026 (Dotnews) – Pemerintah Kota Makassar terus mendorong berbagai upaya untuk menekan aksi kriminalitas jalanan, termasuk melalui pendekatan kultural berbasis seni. Komitmen itu ditegaskan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat menerima audiensi komunitas seni Trauma Kota di Balai Kota Makassar, Senin (2/3/2026).
Audiensi tersebut membahas rencana kegiatan performance art yang mengangkat isu kejahatan jalanan, khususnya fenomena geng motor yang kerap melibatkan generasi muda dan memicu keresahan masyarakat.
Penggagas kegiatan, Soekarno-Hatta, mengatakan fenomena kejahatan jalanan yang melibatkan oknum geng motor masih menjadi persoalan sosial di Makassar sejak lebih dari satu dekade terakhir.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek hukum, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan psikologis warga.
“Kejahatan jalanan yang melibatkan geng motor berdampak pada menurunnya rasa aman masyarakat dalam memanfaatkan ruang publik. Ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan sosial yang bisa menimbulkan trauma kolektif,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan tidak semua komunitas geng motor dapat digeneralisasi sebagai pelaku kejahatan. Menurutnya, terdapat pula komunitas yang menjalankan kegiatan positif dan membangun solidaritas di antara anggotanya.
Program Trauma Kota sendiri dirancang sebagai ruang dialog antara seni, masyarakat, dan pemerintah melalui rangkaian kegiatan seperti pameran foto, diskusi publik, lokakarya, hingga pertunjukan seni performansi.
Kegiatan tersebut rencananya digelar di lima kecamatan di Makassar yang dinilai memiliki dinamika kuat terkait fenomena geng motor, yakni Kecamatan Ujung Pandang, Mariso, Mamajang, Rappocini, dan Manggala.
Rangkaian kegiatan meliputi pameran foto yang menampilkan dokumentasi visual terkait fenomena geng motor, diskusi publik dengan menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah kecamatan hingga psikolog, serta pertunjukan seni performansi di ruang publik.
Selain itu, lokakarya pengembangan karya performansi telah digelar sejak Februari 2026 sebagai bagian dari proses kreatif sebelum dipentaskan di sejumlah wilayah tersebut.
Lokakarya tersebut telah dilaksanakan sebanyak tiga kali, dengan pelaksanaan terakhir pada 28 Februari 2026 di Studio Kala Teater Makassar.
Program ini mengusung pendekatan seni partisipatif yang melibatkan warga, seniman, dan pemangku kepentingan sebagai respons kultural terhadap persoalan sosial perkotaan.
“Tujuan utama program ini adalah memulihkan rasa aman warga di ruang publik, membuka ruang dialog melalui medium seni, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dan pemerintah dalam menciptakan kota yang aman dan ramah,” kata Soekarno-Hatta.
Kegiatan perdana dijadwalkan berlangsung pada 21 April 2026 di Kantor Kecamatan Ujung Pandang melalui pameran foto yang dipasang dalam konsep instalasi visual di aula kantor kecamatan.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi publik dan pertunjukan seni performansi pada hari berikutnya, sebelum kembali ditutup dengan pameran foto lanjutan.
Setelah itu, kegiatan akan berlanjut di Kecamatan Mariso, Kelurahan Mamajang Dalam, Kantor Kelurahan Balla Parang di Kecamatan Rappocini, hingga Kecamatan Manggala sebagai lokasi penutup rangkaian program.
Setiap lokasi akan menampilkan karya foto yang berbeda sesuai konteks wilayah masing-masing.
Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Kota Makassar berharap pendekatan seni dapat menjadi strategi alternatif dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat sekaligus memperkuat dialog sosial guna menciptakan ruang kota yang lebih aman dan inklusif bagi seluruh warga.






