Dotnews.co.id, Makassar — Unjuk rasa Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) untuk mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka berakhir ricuh di pertigaan Jalan Hertasning–Andi Pangerang Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (20/10/2026).
Kericuhan pecah ketika petugas gabungan dari Polrestabes Makassar dan Satbrimob Polda Sulawesi Selatan berupaya merebut ban bekas yang hendak dibakar massa. Aksi saling dorong hingga adu pukul antara mahasiswa dan polisi pun tak terhindarkan.
Situasi mereda setelah petugas mundur dan massa melanjutkan aksi. Unjuk rasa tersebut sempat membuat arus lalu lintas tersendat sehingga sejumlah pengguna jalan mencari jalur alternatif.
Dalam aksinya, mahasiswa membentangkan spanduk, membakar ban bekas di tengah jalan, serta menggunakan sebuah mobil kontainer sebagai panggung orasi.
Mereka mendesak pemerintah pusat segera menuntaskan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai belum tertangani secara menyeluruh.
Koordinator aksi GAM, Fajar Wasis, menyoroti dugaan keterlibatan pihak asing serta celah regulasi dan penegakan hukum yang menurut mahasiswa perlu dievaluasi.
“Kami menganggap bahwa adanya titik celah dan titik keterlibatan daripada pihak asing, yang kemudian membuktikan bahwa ada celah regulasi yang tidak mampu dan aparat penegak hukum yang tidak berani untuk mencegah melakukan pembakaran hutan secara masif di kawasan Kalimantan Tengah, Utara, Selatan, Jambi, Riau, dan Sumatera,” tuturnya.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan pihak mahasiswa. Dugaan keterlibatan pihak asing maupun kelemahan penegakan hukum perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan dan pemeriksaan oleh pihak berwenang.
Selain mendesak penyelesaian karhutla, GAM meminta Polri menuntaskan pengusutan 95 kasus yang disebut telah naik ke tahap penyidikan.
Mahasiswa menilai peningkatan status perkara belum cukup. Mereka mendesak kepolisian mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab secara transparan dan akuntabel sesuai ketentuan hukum.
Aksi ini menjadi bagian dari kritik mahasiswa terhadap penanganan karhutla sekaligus evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, demonstrasi yang diwarnai bentrokan tersebut juga berdampak pada kelancaran lalu lintas di salah satu kawasan jalan utama Makassar.






